PEMBELAJARAN TEMATIK BAHASA INDONESIA SD

Sunting
Pembelajaran Tematik
oleh Dominikus Daud pada 16 Mei 2011 jam 19:40

A. Metode Pembelajaran Tematik

1. Pengertian Metode Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik (Syamsuddin, AR. 2006).

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang menggunakan tema dalam mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (Hesti, 2008).

Dari pendapat di atas maka dapat simpulkan bahwa pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang menggunakan tema serta memadukan beberapa mata pelajaran sehingga memberikan pengalaman yang bermakna terhadab siswa.

Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran tematik, siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Pendekatan ini berangkat dari teori pembelajaran yang menolak proses latihan/hafalan (drill) sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak.

2. Perencanaan dan Pelaksanaan Pembelajaran Tematik

Model pembelajaran tematik merupakan model pembelajaran yang pengembangannya dimulai dengan menentukan topik tertentu sebagai tema atau topik sentral, setelah tema ditetapkan maka selanjutnya tema itu dijadikan dasar untuk menentukan dasar sub-sub tema dari bidang studi lain yang terkait (Fogarty, 1991).

Penentuan tema dapat dilakukan oleh guru melalui tema konseptual yang cukup umum tetapi produktif. Dapat pula ditetapkan dengan negosiasi antara guru dengan siswa, atau dengan cara diskusi sesama siswa. Hesti (2008) menyebutkan bahwa tema dapat diambil dari konsep atau pokok bahasan yang ada disekitar lingkungan siswa, karena itu tema dapat dikembangkan berdasarkan minat dan kebutuhan siswa yang bergerak dari lingkungan terdekat siswa dan selanjutnya beranjak ke lingkungan terjauh siswa. Berikut ini ilustrasi yang diberikan dalam penentuan tema.

Tahap ini merupakan pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar sebagai unsur inti dari aktivitas pembelajaran, yang dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan rambu-rambu yang telah disusun dalam perencanaan sebelumnya. Pelaksanaan pelambelajaran tematik diterapkan ke dalam tiga langkah Lingkungan terdekat siswa Lingkungan Rumah Lingkungan Luar Sekolah.

Tahap ini merupakan pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar sebagai unsur inti dari aktivitas pembelajaran, yang dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan rambu-rambu yang telah disusun dalam perencanaan sebelumnya. Menurut (Sanjaya W, 2006) bahwa dalam pelaksanaan pelambelajaran tematik diterapkan ke dalam tiga langkah yaitu:

(1) Kegiatan awal bertujuan untuk menarik perhatian siswa, menumbuhkan motivasi belajar siswa,dan memberikan acuan atau rambu-rambu tentang pembelajaran yang akan dilakukan

(2) Kegiatan inti, merupakan kegiatan pokok dalam pembelajaran. Dimana dilakukan pembahasan terhadap tema dan subtema melalui berbagai kegiatan belajar dengan menggunakan multi metode dan media sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna. Pada waktu penyajian dan pembahasan tema, guru dalam penyajiannya sehendaknya lebih berperan sebagai fasilitator.

(3) Kegiatan akhir, dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran dengan maksud untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa serta keterkaitannya dengan pengalaman sebelumnya, mengetahui tingkat keberhasilan siswa serta keberhasilan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran.

3. Mengevaluasi Pembelajaran Tematik

Menurut Raka Joni (1996), bahwa pada dasarnya evaluasi dalam pembelajaran tematik tidak berbeda dari evaluasi untuk kegiatan pembelajaran konvensional. Oleh karena itu, semua asas-asas yang perlu diindahkan dalam pembelajaran konvensional berlaku pula bagi penilaian pembelajaran tematik. Bedanya dalam evaluasi pembelajaran tematik lebih menekankan pada aspek proses dan usaha pembentukan efek iringan (nurturant effect) seperti kemampuan bekerja sama, tenggang rasa dan sebagainya. Menurut Pusat Kurikulum (2002), penilaian siswa di kelas I – III SD belum mengikuti aturan penilaian seperti mata pelajaran lain, mengingat anak kelas I SD belum semua lancar membaca dan menulis, maka cara penilaian di kelas I tidak ditekankan pada penilaian secara tertulis.

Penilaian dalam pembelajaran tematik adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh peserta didik melalui pembelajaran. Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung merupakan kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik. Oleh karena itu, penguasaan terhadap ke kemampuan tersebut adalah prasyarat untuk kenaikan kelas.

4. Faktor-Faktor yang Mendukung dan Menghambat Pelaksanaan Pembelajaran Tematik.

Keberhasilan proses pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya adalah guru, siswa, sarana dan prasarana serta lingkungan (Hesti, 2008). Maka faktor-faktor tesebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Guru

Guru merupakan komponen yang sangat menentukan dalam implementasi model pembelajaran tematik. Keberhasilan penerapan model pembelajaran tematik ini terutama berhubungan dengan kualitas atau kemampuan yang dimiliki oleh guru. Berikut ini beberapa aspek yang mempengaruhi kemampuan guru dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik.

1) Pandangan dan pemahaman guru terhadap pembelajaran tematik

Pandangan dan pemahaman guru terhadap pembelajaran tematik akan sangat mempengaruhi guru dalam penerapan pembelajaran tematik. Guru yang menganggap mengajar hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran akan berbeda dengan guru yang menganggap mengajar adalah suatu proses pemberian bantuan kepada peserta didik..

2) Latar belakang pendidikan guru

Berdasarkan hasil stui awal dapat diketahui bahwa latar belakang pendidikan terakhir yang dimiliki oleh guru seluruhnya adalah dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG) atau setara dengan Sekolah Menengah Atas (SMA). Dua orang guru diantaranya sedang mengikuti kuliah penyetaran untuk jenjang pendidikan D2 PGSD. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara akademik, ketiga responden penelitian belum memenuhi kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S-1) seperti disyaratkan dalam Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 bab VI pasal 28 tentang standar pendidik dan tenaga kependidikan.

Latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh guru saat ini tentunya sangat mempengaruhi keberhasilan penerapan model pembelajaran tematik. Apalagi mengingat kesempatan yang diberikan kepada guru untuk menambah pengetahuan dan keterampilan tentang penerapan model pembelajaran tematik masih sangat kurang. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Wachidi (Hesti, 2008), bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seorang guru akan semakin mudah menangkap dan memahami esensi dan isi inovasi yang sedang berjalan di sekolah.

b. Faktor siswa

Siswa adalah organisme yang unik yang berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Perkembangan anak adalah perkembangan seluruh aspek kepribadiannya, akan tetapi tempo dan irama perkembangan masing-masing anak pada setiap aspek tidak selalu sama. Perbedaan perkembangan ini pula yang terlihat pada siswa yang menjadi subjek penelitian di sekolah kategori baik, sedang maupun kurang. Dilihat dari usia biologis siswa di sekolah baik, sedang maupun kurang rata-rata diantara tujuh sampai dengan delapan tahun, akan tetapi setiap siswa memiliki kemampuan belajar yang berbeda. Menurut Hesti (2008) kemampuan belajar siswa dapat dikelompokkan pada siswa berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Siswa yang termasuk berkemampuan tinggi biasanya ditunjukkan oleh motivasi yang tinggi dalam belajar, perhatian dan keseriusan dalam mengikuti pelajaran, dan lain-lain. Sebaliknya siswa yang tergolong pada kemampuan rendah ditandai dengan kurang motivasi belajar, tidak adanya keseriusan dalam mengikuti pelajaran, termasuk menyelesaikan tugas dan sebagainya.

c. Sarana dan prasarana

Berdasarkan hasil observasi dan studi dokumentasi yang dilakukan pada studi awal, diketahui bahwa ketiga sekolah yang menjadi lokasi penelitian pada umumnya telah memenuhi syarat minimal sebagai suatu pusat pendidikan, karena tiap sekolah telah memiliki ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang guru, kamar kecil (WC) dan halaman tempat dilakukannya aktivitas di luar kelas. Apalagi dalam penerapan model pembelajaran tematik tidak dibutuhkan sarana yang spesifik untuk menunjang keberhasilan penerapan pembelajaran tematik. Artinya dengan sarana yang dimiliki oleh ketiga sekolah saat ini, model tersebut dapat diimplementasikan. Selain itu juga sekolah telah dilengkapi dengan prasarana yang memadai, seperti penerangan dan jalan menuju sekolah yang cukup baik.

Dalam keadaan minimal, kondisi ini tentunya tidak menghambat penerapan pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik dapat terlaksana dengan baik pada sekolah kategori baik sedang maupun kurang, yang memiliki perbedaan secara nyata dari sisi kelengkapan sarana prasarananya. Sekolah kategori baik memiliki kelengkapan sarana prasarana yang sudah cukup memadai untuk menunjang keberhasilan penerapan pembelajaran tematik. Hal ini juga disepakati oleh guru yang menyatakan bahwa kelengkapan sarana dan prasarana yang telah dimiliki oleh guru di sekolah kategori baik saat ini dirasakan sudah cukup memadai. Pendapat ini tidak sama dengan guru di sekolah kategori sedang maupun kurang yang menyatakan bahwa sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah mereka saat ini diarasakan masih kurang. Kondisi ini dapat dipahami karena kelengkapan sarana dan prasarana akan membantu guru dalam penyelenggaraan proses pembebelajaran. Menurut Hesti (2008) keuntungan bagi sekolah yang memiliki kelengkapan sarana dan prasarana adalah pertama dapat menumbuhkan gairah dan motivasi guru mengajar, kedua dapat memberikan berbagai pilihan pada siswa untuk belajar.

d. Lingkungan

Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi penerapan model pembelajaran tematik dan menjadi fokus dalam penelitian ini adalah dilihat dari dukungan kepemimpinan yang dilakukan oleh kepala sekolah. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap guru, diketahui bahwa pada umumnya respon kepala sekolah di tiap sekolah baik, sedang maupun kurang, sesungguhnya cukup baik. Ketiga responden menyatakan bahwa kepala sekolah cukup mendukung guru jika terdapat kesempatan ataupun peluang yang diterima oleh guru untuk menambah wawasan atau keterampilan mereka sebagai seorang guru. Seperti misalnya ketika peneliti mengutarakan maksud peneliti untuk melakukan ujicoba penerapan model pembelajaran tematik. Menurut guru, kepala sekolah sangat mendukung dan memberikan motivasi kepada mereka untuk menerima tawaran tersebut, akan tetapi proses bimbingan secara langsung yang diberikan oleh kepala sekolah terhadap guru, terutama yang berhubungan dengan penerapan pembelajaran tematik tidak pernah mereka dapatkan. Kondisi ini dapat dipahami, bahwa menurut penuturan kepala sekolah yang diperoleh dari hasil wawancara, diketahui bahwa kepala sekolah sendiri belum memiliki pemahaman yang cukup akan perancangan dan penerapan model pembelajaran tematik di kelas rendah. Masing-masing kepala sekolah mengakui pernah mendapatkan workshop tentang pembelajaran tematik dari Dinas Pendidikan Kabupaten setempat, akan tetapi karena keterbatasan waktu dan jumlah peserta yang banyak, kepala sekolah mengatakan tidak mendapatkan pengetahuan yang memadai dari workshop tersebut. Akhirnya tindakan yang dilakukan oleh kepala sekolah untuk membantu guru adalah ada yang menggunakan cara dengan menambah buku sumber pelajaran bagi guru, mendorong guru untuk aktif dalam kegiatan KKG maupun membantu guru dalam perancangan pembelajaran tematik

B. Hasil Belajar Siswa

1. Pengertian Hasil Belajar Siswa

Hasil belajar siswa dinyatakan dengan nilai (angka), maka berarti besar kecilnya nilai yang diperoleh akan menunjukkan besar kecilnya atau tinggi rendahnya prestasi yang dicapai oleh setiap murid. Apabila murid mendapat nilai yang tinggi, ini berarti prestasi yang didapat oleh murid itu juga tinggi. Hal ini juga menunjukkan adanya perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar. Sebaliknya apabila seorang murid mendapat nilai rendah, maka ini menunjukkan bahwa prestasinya rendah. Setiap murid mempunyai prestasi yang berbeda-beda pula sesuai dengan kemampuan masing-masing. Perubahan terlihat pada besar kecilnya prestasi belajar yang dicapai oleh murid tersebut. Biasanya prestasi murid diwujudkan dalam bentuk angka.

Menurut Adinegoro, (1975) bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar adalah kemampuan atau kecerdasan seseorang dalam mensukseskan suatu tujuan belajar sehingga tujuan itu jelas dan menentukan. Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Hasil Belajar adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individual maupun kelompok sebagai hasil dari kegiatan belajar (Djamarah, 1994).

Mengacu dari kedua uraian pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu laporan dan bukti akhir dari suatu usaha anak yang telah memenuhi syarat terhadap masalah yang dipelajarinya baik itu dengan melihat atau diamati. Dengan demikian yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah hasil yang dicapai seseorang dalam hal belajar yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu yang dinyatakan dalam bentuk perubahan tingkah laku serta perubahan keterampilan.

2. Manfaat Hasil Belajar Siswa

Secara teoritis, hasil belajar dalam lembaga pendidikan mempunyai arti yang strategis jika ditinjau dari segi kegunaan. Ataupun manfaatnya, antara lain sebagaimana tertera di bawah ini:

1. Hasil belajar siswa dapat meramalkan dan memproyeksi perkembangan kemajuan siswa secara individual maupun secara kelompok.

2. Sebagai bahan laporan bagi kemajuan siswa yang bersangkutan, kepada orang lain (orang tuanya) tentang kemampuannya, disamping sebgai keterangan mengenai diri siswa itu selama mengikuti pendidikan pada suatu lembga pendidikan tertentu.

3. Sebagai bahan informasi tentang keberhasilan studi seseorang bagi suatu sekolah dimana ia bekedudukan sebagai siswa baru pada jenjang atau tingkat pendidikan tertentu.

4. Hasil belajar siswa dapat dijadikan sebagai bahan untuk menentukan status siswa dalam berbagai mata pelajaran.

5. Hasil belajar siswa dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan tentang metode dan bahan yang diberikan oleh guru dalam pelaksanaan supervisi (Eddy Soewandi Kartawijaja, 1987).

Degan konsep teori tentang kegunaan dan manfaat prestasi belajar siswa seperti yang tertulis di atas, maka dapat dipahami bahwa prestasi belajar itu memiliki beberapa kegunaan atau manfaat oleh karena itu prestasi belajar merupkan sebuah petunjuk yang dapt dijadikan parameter (Ukuran) tentang keberhasilan siswa.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar terdiri dari faktor endogen yaitu faktor fisik dan faktor psikis.

Faktor fisik meliputi : (a) kesehatan tubuh, agar siswa belajar dengan baik, maka mereka harus senantiasa menjaga kesehatan tubuhnya, berbagai gangguan seperti flu, sakit perut, pusing-pusing dan kelelahan dapat menurunkan konsentrasi yang pada akhirnya menghambat pencapaian hasil belajar, (b) kesehatan indra, indra merupakan alat komunikasi antara dunia internal dengan obyek yang dipelajari, seandainya alat indra terganggu, maka dapat mempengaruhi daya serap siswa terhadap materi yang disampaikan guru, (c) makanan bergizi dalam tubuh merupakan sumber tenaga untuk melakukan segala aktivitas termasuk didalamnya aktivitas belajar, kekurangan gizi dapat menyebabkan tenaga yang dihimpun berkurang dan hal ini akan mempengaruhi pencapaian hasil belajar.

Faktor psikis meliputi: (a) Intelegensi, intelegensi diartikan sebagai kecakapan untuk memenuhi situasi-situasi baru atau belajar melakukan dengan tanggapan-tanggapan penyesuaian diri yang baru. Semakin tinggi intelegensi siswa, maka semakin mudah menerima mata pelajaran yang disampaikan guru, sehingga akhirnya dapat diketahui bahwa siswa semakin mengetahui materi yang disampaikan oleh guru, maka semakin tinggi prestasi belajarnya, (b) Bakat, bakat adalah suatu kondisi pada seseorang yang memungkinkan dengan latihan khusus mencapai suatu kecakapan, kondisi yang dimaksud adalah kondisi fisik yang menyangkut sejumlah kemampuan yang sudah terbentuk dalam arti siap pakai. Jadi seorang siswa yang belajar sesuai dengan bakatnya cenderung mencapai hasil belajar yang lebih baik, (c) Motivasi, motivasi dapat diartikan sebagai kondisi psikologis yang mendorong seseorang untk melakukan aktifitas guna mencapai tujuan. Dalam diri siswa, motivasi timbul karena adanya keseimbangan individu terganggu, maka individu akan berusaha sekuat tenaga untuk mengembangkan kondisi fisik dengan memenuhi kebutuhan tersebut.(Murni, 2005).

Faktor endogen, yang terdiri dari keluarga dan sekolah, keluarga adalah lingkungan yang pertama dan utama dalam memberikan layanan pendidikan pada anak, oleh karena itu lingkungan keluarga sangat menentukan perkembangan anak. Dari anggota keluarga yaitu ayah, ibu dan saudaranya akan memperoleh gejala kemampuan dasar, baik intelektual maupun sosial. Beberapa faktor yang bersumber dari keluarga adalah pengertian orang tua, keadaan sosial ekonomi, dan latar belakang sosial kebudayaan (Ibid, 2005).

Pada dasarnya sekolah adalah merupakan lembaga pendidikan formal yang bertugas mengembangkan semua potensi siswa secara optimal, namun pada kenyataannya dalam menghubungkan potensi siswa terkadang terdapat faktor-faktor yang sebenarnya jika dilakukan dengan baik dapat menunjang prestasi/hasil belajar siswa, akan tetapi kurang difungsikan pada tempatnya, maka justru dapat menghambat perkembangan para siswa untuk mencapai prestasi belajar di sekolah. Faktor-faktor tersebut adalah interaksi guru dan murid, standar belajar di atas ukuran, media yang digunakan kurikulum, keadaan sekolah, pelaksanaan disiplin, metode belajar, dan tugas-tugas serta layanan bimbingan karier pada siswa.

Menurut Slameto, faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa dapat digolongkan menjadi dua yaitu : 1) Faktor intern yaitu faktor yang ada dalam didalam diri individu siswa yang sedang belajar, dan 2) Faktor eksteren yaitu faktor yang berada di luar individu (Slameto, 2003).

1. Faktor Intern

Adapun yang menjadi faktor intern meliputi faktor jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan.

a. Faktor jasmaniah terdiri dari faktor kesehatan dan cacat tubuh.

b. Faktor psikologis terdiri dari faktor intelegensi, perhatian, minat, bakat, motivasi, kematangan dan kesiapan.

c. Faktor kelelahan baik kelelahan jasmani maupun rohani.

2. Faktor Eksteren

a. Faktor keluarga, cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga.

b. Faktor sekolah meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan murid, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, keadaan gedung sekolah, metode belajar dan tugas rumah.

c. Faktor masyarakat juga merupakan faktor eksteren yang mempengaruhi belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keadaan siswa dalam masyarakat, mas media, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat (Slameto, 2003)

Selain faktor yang telah diuraikan di atas lingkungan adalah merupakan faktor yang mempunyai peranan sangat penting dalam mendukung anak untuk meraih prestasi/hasil belajarnya, faktor ini juga bisa dikatakan faktor eksteren yaitu faktor yang datang dari luar anak tersebut. Yang termasuk faktor ini antara lain : lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.

1. Lingkungan Keluarga

a. Faktor orang tua

Faktor orang tua merupkan faktor yang besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar anak. Orang tua dapat mendidik anak-anak dengan cara memberikan pendidikan yang baik tentu akan sukses dalam belajarnya, sebaliknya orang tua yang tidak mengindahkan pendidikan anaknya, acuh tak acuh, bahkan tidak memperhatikan sama sekali tentu tidak akan berhasil dalan belajarnya.

Begitu pula orag tua yang memanjakan anak-anaknya, juga termasuk cara mendidik yangg kurang baik, anak manja biasanya sukar dipaksa untuk belajar atau ia dibiarkan saja, karena orang tua terlalu sayang pada anaknya.

Faktor lain yang ada hubungannya dengan faktor orang tua adalah hubungan orang tua dengan anak. Adapun orang tua dengan anak yang baik adalah hubungan yang penuh pengertian yang disertai dengan bimbingan dan bila perlu hukuman-hukuman, dengan tujuan untuk memajukan belajar anak. Begitu juga contoh sikap yang baik dari orang tua sangat mempengaruhi belajar anak.

b. Faktor suasana rumah

Lingkungan keluarga yang lain dapat mempengaruhi usaha belajar anak dalam meraih prestasi belajar adalah faktor suasana rumah. Suasana rumah yang terlalu gaduh atau lebih ramai tidak akan memberikan anak untuk belajar dengan baik, misalnya rumah dengan keluarga besar atau banyak sekali penghuninya, begitu juga dengan suasana rumah yang selalu tegang, selalu banyak cekcok di antara anggota-anggotanya, anak akan merasa sedih, bingung dan dirundung kekecewaan serta tekanan batin yang terus menerus akibatnya kesempatan untuk belajar akan terganggu.

c. Faktor ekonomi keluarga

Faktor ekonomi keluarga banyak menentukan juga dalam belajar anak untuk meraih prestasi. Misalnya anak dari keluarga yang mampu dapat membeli alat sekolah dengan lengkap, sebaliknya anak-anak dari keluarga yang miskin tidak dapat membeli alat-alat tersebut. Dengan alat yang serba tidak lengkap ini maka hati anak-anak menjadi kecewa, mundur, putus asa sehingga dorongan belajar mereka kurang sekali.

2. Lingkungan Sekolah.

Lingkungan sekolah kadang-kadang juga menjadi faktor hambatan bagi anak, yang termasuk dalam faktor ini adalah :

a. Cara penyajian pelajaran yang kurang baik, dalam hal ini misalnya karena guru kurang persiapan atau kurang menguasai buku-buku pelajaran.

b. Hubungan guru dengan murid yang kurang harmonis, biasanya bila anak tersebut menyukai gurunya, akan suka pula pada pelajaran yang diberikan. Sebaliknya bila anak sudah membenci kepada gurunya atau ada hubungan yang kurang baik maka dia akan sukar menerima pelajaran tersebut.

c. Hubungan antara anak dengan anak yang kurang menyenangkan. Hal ini terjadi pada anak yang diasingkan atau dibenci oleh teman-temannya, sehingga anak yang dibenci ini akan mengalami tekanan batin yang bisa menghambat pelajaran.

d. Bahan ajaran yang terlalu tinggi di atas ukuran normal kemampuan anak.

e. Alat-alat belajar di sekolah yang kurang lengkap

f. Jam-jam pelajaran yang kurang baik, misalnya sekolah yang masuk siang dimana udara sangat panas mempunyai pengaruh untuk cepat merasa lelah.

3. Lingkunga Masyarakat

Lingkungan masyarakat termasuk lingkungan yang dapat menghambat kemajuan belajar anak :

a. Mas media, seperti : bioskop, radio, televisi, surat kabar, majalah dan sebagainya.

b. Teman bergaul yang memberikan pengaruh yang tidak baik. Orang tua sering terkejut bila tiba-tiba melihat anaknya yang belum cukup umur sembunyi-sembunyi merokok, mabuk-mabukan dan sebagainya.

c. Adanya kegiatan-kegiatan dalam masyarakat, misalnya ada kegiatan organisasi, belajar pencak silat, belajar menari dan sebagainya. Jika kegiatan ini dilebih-lebihkan jelas akan menghambat belajar anak.

d. Corak kehidupan tetangga. Dalam hal ini dimaksudkan, apakah anak itu dalam lingkungan tetangga yang suka judi, atau lingkungan pedagang atau buruh dan sebagainya, sebab semua ini sangat mempengaruhi semangat belajar anak (Dominikus 2011).

No comments yet.

Leave a Reply